Universitas Almuslim Gelar UKBI bagi Pimpinan dan Dosen, Jadi Perguruan Tinggi Pertama Pelaksana UKBI di Aceh

Bireuen – Universitas Almuslim kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu akademik dan budaya berbahasa Indonesia melalui penyelenggaraan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Merdeka bagi para pimpinan dan dosen. Kegiatan yang berlangsung di CBT Center Universitas Almuslim ini diikuti oleh sekitar 100 peserta, termasuk Rektor Universitas Almuslim, Dr. Marwan, M.Pd., yang turut mengikuti ujian bersama jajaran pimpinan universitas dan dosen dari berbagai fakultas.
Pelaksanaan UKBI ini merupakan langkah strategis Universitas Almuslim dalam memperkuat kompetensi kebahasaan sivitas akademika sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi melalui penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kegiatan akademik, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.


Terwujudnya pelaksanaan UKBI di Universitas Almuslim merupakan hasil kerja sama yang telah terjalin antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Balai Bahasa Provinsi Aceh, dan Universitas Almuslim. Kolaborasi tersebut menjadi wujud sinergi antarlembaga dalam memperluas layanan pengukuran kemahiran berbahasa Indonesia yang terstandar secara nasional sekaligus mendukung penguatan budaya literasi di Aceh.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Almuslim, Dr. Marwan, M.Pd., menyampaikan bahwa keikutsertaan pimpinan universitas dalam UKBI merupakan bentuk komitmen untuk memberikan teladan kepada seluruh sivitas akademika mengenai pentingnya penguasaan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah, bahasa komunikasi, dan bahasa persatuan.


“Sebagai perguruan tinggi, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penggunaan bahasa Indonesia dalam dunia akademik. UKBI menjadi instrumen yang objektif untuk mengukur kemampuan berbahasa sekaligus menjadi motivasi bagi kita semua agar terus meningkatkan kompetensi kebahasaan. Kemampuan berbahasa Indonesia yang baik akan berdampak langsung pada kualitas pembelajaran, penelitian, publikasi ilmiah, dan pelayanan akademik,” ujar Dr. Marwan.


Lebih lanjut, Rektor Universitas Almuslim mengajak seluruh pemangku kepentingan di Aceh untuk memanfaatkan layanan UKBI yang kini tersedia di Universitas Almuslim.
“Kami mengundang kepala sekolah, guru, dosen, instansi pemerintah, BUMN, BUMD, maupun berbagai lembaga lainnya di Aceh untuk melaksanakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia melalui Pusat Bahasa Universitas Almuslim. Dengan fasilitas CBT Center yang representatif serta dukungan sumber daya dan sistem penyelenggaraan yang memadai, Universitas Almuslim siap menjadi mitra dalam meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia bagi masyarakat Aceh,” tambahnya.


Sementara itu, Koordinator UKBI Universitas Almuslim yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Rektor Bidang Kerja Sama dan Akademik, Dr. Hendra Saputra, menjelaskan bahwa UKBI Adaptif Merdeka merupakan instrumen nasional yang dirancang untuk mengukur tingkat kemahiran seseorang dalam menggunakan bahasa Indonesia secara komprehensif, baik untuk kepentingan akademik maupun profesional.


“UKBI bukan sekadar alat untuk mengukur kemampuan berbahasa Indonesia, tetapi juga menjadi instrumen evaluasi yang dapat mendorong peningkatan kualitas komunikasi akademik, penulisan karya ilmiah, serta profesionalisme sivitas akademika. Melalui hasil UKBI, setiap peserta dapat mengetahui tingkat kemahiran berbahasanya sehingga menjadi dasar untuk terus meningkatkan kompetensi sesuai standar nasional,” jelas Dr. Hendra Saputra.


Ia menambahkan bahwa terselenggaranya UKBI di Universitas Almuslim merupakan hasil sinergi yang baik antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Aceh, dan Universitas Almuslim dalam memperluas layanan pengujian kemahiran berbahasa Indonesia di Aceh. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk menghadirkan layanan UKBI yang lebih mudah diakses oleh sivitas akademika, tenaga pendidik, aparatur pemerintah, dan masyarakat.


“Kami berharap kerja sama ini dapat terus berkembang sehingga semakin banyak perguruan tinggi, sekolah, instansi pemerintah, dan berbagai lembaga lainnya yang memanfaatkan UKBI sebagai instrumen peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia. Kehadiran layanan UKBI di Universitas Almuslim juga diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat Aceh untuk memperoleh sertifikat UKBI tanpa harus mengikuti tes di luar daerah,” ungkapnya.


Dr. Hendra Saputra juga menjelaskan bahwa manfaat UKBI saat ini semakin luas. Selain menjadi alat ukur kemahiran berbahasa Indonesia, sertifikat UKBI telah menjadi salah satu persyaratan pada sejumlah program beasiswa nasional, termasuk Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Untuk jenjang S1/D4, pelamar diwajibkan memiliki minimal predikat Madya (skor 482–577), sedangkan untuk jenjang S2 dan S3 dipersyaratkan minimal predikat Unggul (skor 578–640). Di samping itu, sertifikat UKBI juga mulai dimanfaatkan sebagai salah satu persyaratan pada beberapa program beasiswa nasional lainnya. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa UKBI kini tidak hanya menjadi instrumen pemetaan kemampuan berbahasa, tetapi juga menjadi nilai tambah yang mendukung pengembangan studi dan karier.


Pada kesempatan yang sama, Ketua Pusat Bahasa Universitas Almuslim, Misnar, M.A., menyampaikan bahwa pelaksanaan UKBI ini menjadi tonggak penting dalam penguatan budaya literasi dan kebahasaan di lingkungan perguruan tinggi.


Ia menjelaskan bahwa Universitas Almuslim merupakan perguruan tinggi pertama di Aceh yang dipercaya sebagai pelaksana UKBI Adaptif Merdeka. Kepercayaan tersebut menjadi bukti kesiapan Universitas Almuslim dalam mendukung program nasional penguatan bahasa Indonesia melalui layanan pengujian yang profesional dan berkualitas.


“Kepercayaan yang diberikan kepada Universitas Almuslim merupakan amanah yang harus kami jalankan dengan sebaik-baiknya. Melalui Pusat Bahasa, kami berkomitmen memberikan layanan UKBI secara profesional, tidak hanya bagi dosen dan mahasiswa, tetapi juga bagi guru, tenaga kependidikan, aparatur pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat umum yang memerlukan sertifikat kemahiran berbahasa Indonesia. Kehadiran layanan ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat Aceh mengikuti UKBI tanpa harus ke luar daerah,” ujar Misnar.


Ia menambahkan bahwa Pusat Bahasa Universitas Almuslim akan terus memperluas layanan dan sosialisasi UKBI melalui kerja sama dengan sekolah, perguruan tinggi, instansi pemerintah, dan berbagai lembaga lainnya di Aceh. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kemahiran berbahasa Indonesia sebagai bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia.


Pelaksanaan UKBI berlangsung di CBT Center Universitas Almuslim dengan menggunakan sistem UKBI Adaptif Merdeka, yaitu sistem pengujian berbasis komputer yang menyesuaikan tingkat kesulitan soal berdasarkan kemampuan peserta secara real time. Sistem ini memungkinkan hasil pengukuran yang lebih akurat, objektif, efisien, dan sesuai dengan tingkat kemahiran masing-masing peserta.


Melalui penyelenggaraan UKBI ini, Universitas Almuslim tidak hanya memperkuat budaya akademik yang menjunjung tinggi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi juga mempertegas posisinya sebagai perguruan tinggi pertama di Aceh yang menjadi pelaksana UKBI Adaptif Merdeka. Dengan dukungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta Balai Bahasa Provinsi Aceh, Universitas Almuslim siap menjadi pusat layanan UKBI bagi dunia pendidikan, instansi pemerintah, dan masyarakat luas. Kehadiran layanan ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat Aceh terhadap sertifikasi kemahiran berbahasa Indonesia sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing di tingkat nasional.■Humas_Umuslim